KPU Bakal Mengkoreksi Kesalahan Data Di Sirekap

Pratama Persadha: Sepertinya Tak Ada Fitur Error Checking

Pratama Persadha, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSREC. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id
Pratama Persadha, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSREC. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id

RM.id  Rakyat Merdeka – Komisi Pemilihan Umum (KPU) buka suara terkait viralnya perbedaan data antara formulir C hasil perolehan suara dan Sirekap (Sistem Informasi Rekapitulasi). KPU mengakui, sistem konversi untuk membaca data, terdapat kesalahan.

Ketua KPU Hasyim Asy’ari menjelaskan, formulir C hasil plano yang diunggah tersebut, secara otomatis dikonversi. Menurut Hasyim, dalam proses konversi itulah terjadi kesalahan.

“Kami di KPU pusat, melalui sistem yang ada, itu termonitor mana saja antara unggahan formulir C hasilnya, dengan konversinya yang salah,” kata Hasyim dalam konferensi pers di kantor KPU, Jakarta Pusat.

Hasyim menuturkan, pihaknya juga telah memonitor jika terdapat kesalahan hitung. Pihaknya, segera melakukan koreksi terkait kesalahan konversi tersebut.

“Tentu saja untuk yang penghitungan atau konversi dari yang formulir ke angka-angka penghitungan, akan kami koreksi sesegera mungkin,” jelasnya.

Meski begitu, Hasyim menyampaikan, Sirekap akan mengetahui jika memang terdapat kesalahan konversi. Dia menyebut, total ada 2.325 TPS yang mengalami salah konversi.

“Di dalam sistem Sirekap, ada 2.325 TPS yang ditemukan antara konversi hasil penghitungan suaranya dengan formulir yang diunggah itu, berbeda,” jelasnya.

Namun, Hasyim mengaku bersyukur, karena publik  dapat memonitor jika terdapat kesalahan-kesalahan. Dia menegaskan, KPU tetap akan menggunakan Sirekap.

“Patut kita syukuri ada Sirekap yang bisa mengunggah itu, dan hasil penghitungan di TPS bisa diketahui publik. Jadi, nggak ada yang sembunyi-sembunyi, nggak ada yang diam-diam. Semuanya kita publikasikan apa adanya,” jelasnya.

Sirekap dikembangkan dan digunakan KPU untuk perhitungan suara. KPU pun berkomitmen untuk  memanfaatkan Sirekap pada Pemilu mendatang, demi Pemilu yang profesional dan memberikan kemudahan bagi masyarakat mengakses segala informasi.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSREC, Pratama Persadha ikut menyoroti kasus ini. Menurut dia, ada keanehan pada situs KPU yang menunjukkan perolehan hasil perhitungan suara di TPS dan di situs KPU. Dia menilai, seharusnya ada pengecekan awal saat data itu baru dimasukkan.

Untuk membahas persoalan ini, berikut wawancara selengkapnya dengan Pratama Persadha.

Anda punya catatan hasil penghitungan suara di situs pemilu2024.kpu.go.id, ya?

Di salah satu TPS, yaitu TPS 013 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, jumlah suara yang dimasukkan ke dalam sistem berbeda dengan lembar C1, dengan selisih 500 suara.

Tidak hanya jumlah suara, beberapa data yang tertampil di situs KPU tersebut, juga berbeda dengan form C1, seperti jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap), serta jumlah suara sah.

Tolong jelaskan…

Di situs KPU, di TPS tersebut terdapat 301 jumlah pengguna dalam DPT. Sedangkan di form C1 tertulis, jumlah pemilih dalam DPT adalah 236.

Keanehan lainnya, jumlah suara sah di situs KPU hanya tertera 2 suara. Sedangkan di form C1, 202 suara. Padahal, pada baris jumlah seluruh suara sah dan suara tidak sah, adalah betul 204 suara, sesuai form C1.

Hanya itu?

Yang lebih memprihatinkan, jumlah perhitungan suara Pemilihan Presiden, yakni untuk paslon Nomor 2 Prabowo-Gibran, jumlah suara yang diperoleh tertulis di situs KPU 617 suara, kelebihan 500 suara dari yang seharusnya adalah 117 suara, seperti tertera pada form Plano C1.

Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Jika dilihat pada data TPS tersebut, sepertinya sistem entry data yang digunakan KPU tidak memiliki fitur error checking. Padahal, fitur ini mudah dimasukkan saat membuat sistem.

Apa keunggulan fitur ini?

Kesalahan memasukkan data, baik disengaja maupun tidak disengaja, tidak dapat terjadi.

Jika dilakukan error checking saat entry, sistem akan menolak jika jumlah perolehan suara Pemilihan Presiden, di atas jumlah suara yang sah.

Kemudian, sistem juga akan menolak jika jumlah suara sah ditambah surat suara tidak sah, tidak sama dengan baris jumlah seluruh suara sah dan suara tidak sah.

Apa saran Anda agar hal seperti ini, bisa diperbaiki?

Siapa pun pemenang kontestasi politik ini merupakan pilihan terbaik bangsa Indonesia. Tetapi, masalah perbedaan data itu, seharusnya tidak terjadi.

Oleh karena itu, saya menyarankan masyarakat yang bisa mengakses hasil perhitungan suara di TPS masing-masing, untuk mengeceknya di website infopemilu2024.kpu.go.id, kemudian pilih TPS masing-masing, dan cek hasil perhitungan suaranya.

Pastikan bahwa hasil yang ditampilkan di situs KPU itu sama persis dengan suara yang ada di TPS. Mari kita jaga agar Pemilu 2024 menjadi Pemilu yang jujur dan adil, tanpa ada rekayasa. NNM

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Sabtu, 17 Februari 2024 dengan judul “KPU Bakal Mengkoreksi Kesalahan Data Di Sirekap Pratama Persadha: Sepertinya Tak Ada Fitur Error Checking”https://bolalampupetak.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*